Geleri Foto
Pilih Bahasa
indonesiaBahasa Inggris
Agenda Sekolah
18 October 2018
M
S
S
R
K
J
S
30
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Ingin Tinggal di Luar Negeri? Ikut AFS salah satu solusinya

Tanggal : 08/01/2018, 18:48:35, dibaca 224 kali.
Assalamu 'alaikum w.w.
Selamat malam adik-adik sahabat Smaridasa Samarinda.


Ada yang berminat belajar di luar negeri? Belajar berbagai bahasa langsung dengan orang-orang asing? Belajar berbagai kebudayaan dunia dan menjadi duta kebudayaan kita di luar negeri? atau menjadi relawan sosial di luar negeri ?

Nah, AFS punya program menarik buat kalian semua. Apa itu AFS? Silahkan googling sendiri yah atau kalian bisa bertanya ke kak Hadijjah Ummini Elsa (AFS Amerika Tahun 2017-2018) di Kampus A.

Yuk simak cerita dari kak Hadijjah Ummini Elsa selama mengikuti program AFS tahun kemarin.

------------------------


Apakah kalian pernah berpikir untuk keluar dari zona nyaman kalian ? Berpikir bagaimana rasanya menjadi kaum minoritas yang selayaknya alien ? Di mana kalian harus tinggal di sebuah daerah baru yang tidak kalian kenal dengan baik dan orang-orang lain berbicara menggunakan bahasa yang tidak biasa kalian gunakan sehari-hari ? Ya, saya mengambil keputusan untuk melakukan perjalanan tersebut. Perjalanan yang membawa saya seperti saya yang sekarang. Perjalanan ke Chicago, Amerika Serikat yang berjarak 14.767 km dari Indonesia.

Selama 10 bulan saya tinggal di negara orang. Negara yang tidak saya kenal dengan baik, saya dituntut harus menggunakan bahasa yang bukan bahasa ibu saya, makan makanan yang tidak sama seperti di rumah, dan juga saya berangkat tanpa mengenal seorang pun dari negara itu.

Berat ? Sedikit, tapi pasti bisa dilalui. Saya harus meninggalkan keluarga, teman-teman, dan orang-orang yang biasanya ada di sekitar saya. Saya harus meninggalkan rumah, sekolah, dan negara tempat saya dibesarkan. Saya harus meninggalkan nasi padang, bakso, ayam geprek, batagor, pempek, seblak, dan makanan-makanan lain yang tidak bisa saya jumpai di negara tujuan saya.

Siang itu, Senin, 7 Agustus 2017, saya mengucapkan “sampai jumpa di tahun depan ya!” kepada keluarga, teman-teman, dan orang terkasih saya. Walaupun dalam hati saya, semua perasaan bercampur aduk menjadi satu. Senang karena pada akhirnya impian saya untuk tinggal dan belajar di luar negeri akan segera terwujud. Perjalanan saya akan dimulai. Sedih karena saya harus meninggalkan apa yang saya miliki dan akan berjumpa lagi dengan mereka 10 bulan kemudian. Khawatir karena tantangan seperti apakah yang akan saya hadapi nantinya. Tapi, langkah kaki saya tidak berhenti.

Ketika saya sampai di Chicago, keluarga asuh saya datang untuk menjemput saya. Mereka menyambut saya dengan sangat hangat, benar-benar seperti menyambut salah seorang anggota keluarga yang baru saja pulang setelah perjalanan panjang. Padahal, kami hanya sempat berkomunikasi melalui email saja. Mereka membawa poster, balon, dan bunga untuk saya.
Selang 2 hari setelah saya sampai di Chicago, saya bertemu dengan 2 orang dari sekolah saya, yang kemudian menjadi sahabat saya. Nama mereka Kio dan Jordan. Kami melakukan banyak hal bersama. Kami berjalan kaki ke daerah sekitar rumah dan juga ke rumah mereka berdua. Kami juga sama-sama menjadi anggota Color Guard di Marching Band sekolah. Tidak hanya itu, kami juga memiliki kelas yang sama, yaitu Dance Class.

Selama di sana, saya tetap menjalani rutinitas seperti biasanya. Pergi ke sekolah, mengerjakan PR, mengerjakan tugas mingguan saya di rumah yaitu bersih-bersih, ikut dalam kegiatan sekolah, ikut dalam kegiatan masyarakat, dan membantu mama asuh saya memasak.

Mama asuh saya merupakan seorang yang sangat suka memasak dan membuat berbagai macam masakan. Hal kesukaan beliau adalah belajar cara memasak makanan baru dan mencoba makanan baru! Beliau tidak pernah menolak untuk belajar cara memasak atau mencoba makanan dari daerah manapun. Beliau bisa memasak makanan Swedia, Thailand, Pakistan, India, dan masih banyak lagi. Ah, tidak lupa Indonesia! Beliau sudah bisa memasak sate dan nasi goreng.

Tidak hanya beliau yang belajar memasak makanan Indonesia, saya pun belajar memasak berbagai jenis makanan dan kue darinya. Saya sudah bisa membuat cheesecake sendiri! Padahal pembuatan cheesecake cukup ribet loh. Saya pun diajarinya membuat berbagai jenis roti, karena di rumah kami biasanya memakan roti buatan mama dan bukan roti yang dibeli di toko-toko.

Selama di sana saya telah mengunjungi berbagai jenis museum. Ada Dusable Museum of African American, Art Museum, Writers Museum, Museum of Contemporary Art, Museum of Children, Holocaust Museum, Museum of Science and Industry, dan masih banyak lagi. Sejauh ini yang menjadi kesukaan saya adalah Museum of Science and Industry karena di sana terdapat 1 lantai yang mana khusus untuk bagian anatomi tubuh manusia. Wah keren kan ? Museum ini juga mengajak anak-anak untuk belajar tentang Sains dan Industri dengan cara yang menyenangkan. Oh iya, di museum ini juga ada Lego Museum loh! Jadi, anak-anak bisa dengan bebasnya bermain dengan lego dan tidak lupa, tetap mengandung unsur pendidikannya juga! Museum ini juga memiliki sebuah bioskop yang mana bioskopnya tidak seperti bioskop pada umumnya. Jika pada bioskop biasanya layarnya hanyalah berbentuk persegi panjang begitu saja, bioskop di sini layarnya berbentuk seperti kubah. Sehingga penonton dapat benar-benar dapat merasakan seperti ada di dalam cerita yang sedang ditonton. Film-film yang disediakan pun penuh dengan pendidikan pastinya. Ada yang tentang perkembangan pembangunan di dunia khususnya Chicago dan ada juga tentang pelestarian lingkungan. Ketika natal tiba, museum ini mengadakan pameran hiasan pohon natal dari seluruh penjuru dunia. Ada kurang lebih 50 pohon yang dipamerkan. Rasanya untuk menjelajahi museum ini dalam 1 hari saja sangatlah tidak cukup.


Di sekolah, saya mengikuti berbagai kegiatan seperti Marching Band, Winter Guard, Math Club, After School Matters : Digital Video Production, dan juga Band Concert. Di Marching Band saya menjadi bagian dari Color Guard yaitu para penari yang memanfaatkan bendera-bendera dan berbagai alat peraga lainnya. Kami mengikuti berbagai perlombaan dan juga tema penampilan yang kami bawakan kemarin yaitu Romeo and Juliet. Sebenarnya Color Guard dan Winter Guard hampir sama, yang membedakannya hanyalah Color Guard merupakan bagian dari Marching Band yang mana hanya ada di musim panas, sedangkan Winter Guard hanya ada saat musim dingin dan bukan merupakan bagian dari Marching Band. Saya juga mengikuti berbagai kompetisi matematika yang mana saya sempat beberapa kali mendapatkan Highest School Scorer for Algebra 2 dan Third Place for Algebra 2. Di After School Matters : Digital Video Production, kami membuat sebuah film pendek yang mana saya menjadi director di film ini. Kami belajar banyak tentang dunia perfilman. Kami belajar mulai dari teknis penggunaan alat hingga tahap editing. Tidak lupa saya juga berkontribusi dalam Band Concert di sekolah yang mana memang karena saya mengikuti kelas band dan saya bermain clarinet. Kami membawakan berbagai jenis lagu, kami pun memainkan berbagai lagu yang diambil dari film-film yang ada seperti The Avengers, How To Train Your Dragon, Happy, dan juga New World Symphony.

Musim dingin adalah salah satu hal yang paling saya nanti-nantikan karena saya belum pernah merasakan musim dingin seumur hidup saya. Dan benar saja, seperti namanya, saat itu benar-benar dingin sekali. Suhu menunjukkan -19 derajat Celcius. Sebenarnya suhu -19 derajat Celcius bukanlah yang membuat semua terasa sangat dingin, tetapi angina yang berhembuslah yang membuat semuanya terasa lebih dingin. Walaupun saya sudah mengenakan baju berlapis-lapis dan jaket tebal, tetap saja dingin itu bisa saya rasakan. Tapi, pengalaman saya bermain dengan salju sangatlah menyenangkan. Karena di Chicago tidak ada tempat yang memungkinkan untuk bermain ski, maka saya dan adik-adik saya pergi ke taman dekat rumah yang ada daerah tingginya. Kami pun bermain ski versi mini.

Seperti yang saya sebutkan di atas, bahwa saya mengambil kelas Dance. Salah satu materi yang kami pelajari adalah tarian daerah suatu negara. Inilah salah satu kesempatan saya untuk mengenalkan Indonesia pada teman-teman saya, kelompok saya memilih untuk mempelajari tarian Indonesia. Saya sangat senang sekali dapat mengajarkan tarian Indonesia kepada teman-teman saya. Di akhir semester, kami mengadakan sebuah pementasan yang mana setiap kelompok akan menampilkan 1 buah tarian di depan seluruh sekolah. Pada awalnya, kelompok saya mengatakan bahwa kami tidak akan menampilkan tarian yang saya ajarkan karena kami tidak memiliki cukup banyak waktu untuk itu. Namun, tanpa diduga tibat-tiba salah seorang teman saya naik ke atas panggung dan mengatakan bahwa kami akan menampilkan sebuah tarian apresiasi untuk seorang special yang tidak lain adalah saya. Saya sempat terharu. Kami pun menari di depan satu sekolah.

Sebenarnya, yang saya pelajari selama 10 bulan ke belakangan tidak hanya apa yang saya ceritakan di atas. Cerita ini hanya sepersekian dari apa yang saya alami dan saya pelajari, tapi itu semua saya rasa cukup untuk mewakili pengalaman saya yang lainnya yang tidak bisa saya ungkapkan dengan kata-kata. Dari perjalanan ini saya belajar bahwa untuk mencapai kebahagiaan itu tidaklah sesusah yang kita pikirkan. Banyak sekali kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang benar-benar bisa membuat kita bahagia, contohnya menemukan Indomie dan restoran Indonesia di negara orang. Dari perjalanan ini pula saya belajar untuk menjadi mandiri, apa itu perbedaan, bagaimana cara berkomunikasi, bagaimana saya seharusnya mengelola uang yang saya punya, bagaimana cara menghadapi suatu masalah dan bagaimana cara saya untuk memecahkan masalah tersebut, dan masih banyak sekali pembelajaran yang saya dapatkan.

Kami selalu menyebut perjalanan ini sebagai “Roller Coaster”. Orang-orang bilang karena perjalanan ini akan terus naik turun seperti roller coaster. Tapi, bagi saya perjalanan ini lebih dari itu. Perjalanan ini disebut roller coaster karena dalam perjalanan ini ada para mekanik yang selalu siap sedia untuk memastikan bahwa perjalanan kami berjalan dengan baik. Merekalah support system kami. Perjalanan ini disebut roller coaster karena kami akan selalu kembali ke tempat kami memulai semuanya. Perjalanan ini disebut roller coaster karena akan selalu ada orang yang mau menemani kami duduk dalam roller coaster ini. Kami tidak berjuang sendiri. Tapi kami memiliki satu sama lain. Perjalanan ini disebut roller coaster karena akan selalu ada orang yang walaupun selama perjalanan pusing, mual, dan lain sebagainya, tetapi tetap ingin menaikinya lagi dan ada juga orang yang walaupun tidak merasa apa-apa selama perjalanan, tetapi merasa sekali perjalanan saja sudah cukup. Dan ya, saya adalah salah satu dari sekian banyak orang yang merasa pusing, mual, mau muntah, dan lainnya tetapi tetap ingin menaiki dan mencoba perjalanan dengan roller coaster lainnya.

Saya selalu mengatakan kepada keluarga asuh dan teman-teman saya di sana, bahwa mereka adalah bintang bagi saya. Karena memang benar mereka tidak bisa melihat saya setiap saat, tetapi bukan berarti saya tidak ada. Saya selalu disini. Saya ada, tapi di belahan dunia yang lain.


Kembali ke Atas


Berita Lainnya :
 Silahkan Isi Komentar dari tulisan berita diatas
Nama
E-mail
Komentar

Kode Verifikasi
                

Komentar :


   Kembali ke Atas