Jumat, 9 Mei 2025.
Di sela-sela kesibukannya, Ketua Komisi X DPR RI, Dr. Ir. Hetifah Syaifudian, M.P.P., menyempatkan diri untuk mengunjungi SMA Negeri 10 Samarinda bertepatan dengan telah ditetapkannya SMA Negeri 10 Samarinda sebagai SMA Unggul Garuda Transformasi oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi beberapa waktu lalu.

Pada kesempatan tersebut, Hetifah Syaifudian mengaku bangga atas sederet prestasi yang diraih SMA Negeri 10 Samarinda dalam berbagai bidang.
“Saya bangga, SMA Negeri 10 Samarinda ditetapkan sebagai SMA Unggul Garuda Transformasi bersama 11 sekolah lain di Indonesia. Semoga menjadi contoh dan inspirasi bagi sekolah yang ada di Kaltim dan Indonesia,” ucap Hetifah.
Oleh karena itu, ia memastikan akan memberikan dukungan agar sekolah yang masuk dalam 12 sekolah dari seluruh Indonesia dengan status Sekolah Unggulan Garuda Transformasi itu bisa semakin berprestasi.
Hetifah juga berharap, sejumlah prestasi SMA Negeri 10 di bidang literasi juga kegiatan peningkatan minat baca, akan menginspirasi sekolah lain dan stakeholder untuk bisa mendapatkan prestasi yang sama.
“Mudah-mudahan kita bisa menjadi provinsi yang memiliki litersi yang tinggi dalam berbabgai bidang,” bebernya.
Sementara itu, Kepala SMA Negeri 10 Samarinda Fathurrachim, menjelaskan pihaknya sangat berharap kehadiran Ketua Komisi X DPR RI akan memperkuat dukungan terhadap upaya pihaknya untuk meningkatkan prestasi belajar siswa.
“Pembicaraan dengan beliau (Hetifah), beliau akan memperjuangkan porsi beasiswa Garuda lebih besar untuk siswa Kaltim khususnya SMA 10,” demikian Fathur.

Hetifah sendiri ke SMA Negeri 10 Samarinda dalam rangka menghadiri kegiatan “Bedah Cerpen karya Syafruddin Pernyata dengan tema Cerdas melalui Membaca dan Menulis Cerita”. Kegiatan ini diinisiasi oleh Komunitas Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB) dan SMA Negeri 10 Samarinda bekerja sama dengan MGMP Bahasa Indonesia dan MGMP Bahasa Inggris Jenjang SMA Kota Samarinda.
“Baru kali ini saya datang ke (acara yang diselenggarakan di) sekolah tapi betul-betul memberikan suatu trigger kepada semua pihak. Baik guru, komunitas literasi, untuk bisa aktif dan produktif cerdas bukan hanya menulis tapi juga membaca,” ungkap Hetifah.

