Menelusuri Sejarah Smaridasa Family (Smadaf) – Bagian 1

Catatan penelusuran sejarah berdasarkan cerita alumni SMAN 10 Samarinda.

Membuka Kegiatan SMADAF 2026 untuk angkatan 30

Sebagai Kepala SMAN 10 Samarinda, saya tertarik menelusuri sejarah Smadaf (Smaridasa Family), sebuah tradisi kekeluargaan yang menjadi bagian dari kehidupan siswa di sekolah dan asrama. Rasa ingin tahu ini membawa saya pada sebuah percakapan dengan Ketua Angkatan IKASADA, untuk menggali cerita tentang awal pembentukan keluarga asuh, perkembangan nama-nama keluarga, dan dinamika yang menyertainya.

Dari percakapan tersebut, saya menemukan banyak cerita menarik. Sebagian masih diingat dengan jelas, sebagian lainnya mulai samar, dan beberapa detail masih perlu dikonfirmasi. Namanya juga menelusuri sejarah melalui ingatan alumni—ada cerita serius, ada cerita yang mengundang tawa, dan ada pula bagian yang membuat kita bertanya, “Kok bisa begitu, ya?”

Tulisan ini merupakan catatan awal penelusuran berdasarkan penuturan alumni. Saya berharap cerita ini menjadi titik awal untuk menghimpun lebih banyak informasi dan dokumentasi dari berbagai angkatan, sehingga sejarah Smadaf dapat dipahami secara lebih utuh oleh generasi sekarang dan yang akan datang.

Sebelum dikenal sebagai Smadaf, tradisi ini disebut keluarga asuh, dengan hubungan kakak asuh dan adik asuh. Bayangkan kehidupan siswa baru pada masa itu. Sekitar 60 siswa datang dan harus tinggal jauh dari keluarga, tanpa kemudahan komunikasi seperti sekarang. Lingkungan sekolah dan asrama masih terasa asing, bahkan angker bagi sebagian siswa.

Dalam situasi tersebut, kakak asuh menjadi tempat bertanya dan belajar beradaptasi. Hubungan ini hadir dalam berbagai bentuk sederhana: membantu adik memahami pelajaran, mengingatkan ketika ada masalah kedisiplinan, menolong ketika kakak sakit, hingga mewariskan buku pelajaran setelah kakak lulus. Menurut penuturan alumni, keluarga asuh juga memiliki tradisi makan bersama setiap akhir pekan.

Keluarga asuh, dengan demikian, bukan sekadar sistem pengelompokan siswa. Di dalamnya tumbuh hubungan lintas angkatan yang memungkinkan siswa saling membantu dan belajar dari pengalaman satu sama lain.

Pemilihan kakak asuh

Salah satu cerita yang paling menarik adalah proses pemilihan kakak asuh. Dalam ingatan alumni, para calon kakak asuh duduk di lapangan dengan tubuh ditutup selimut, sementara siswa baru berlari untuk mendapatkan kakak asuh. Ada pula cerita tentang kakak asuh yang berusaha menunjukkan kekuatannya dengan bergerak atau memberontak di balik selimut. Unik juga jika membayangkannya sekarang.

Menurut penuturan tersebut, proses pemilihan berlangsung secara acak. Siswa baru tidak mengetahui siapa kakak asuhnya ataupun keluarga mana yang akan menjadi tempatnya bernaung. Artinya, karakter keluarga yang dikenal sekarang tidak serta-merta merupakan identitas yang sejak awal dirancang secara khusus.

Perjalanan keluarga asuh juga dipengaruhi oleh kondisi jumlah siswa laki-laki dan perempuan yang tidak selalu seimbang. Salah satu cerita yang saya peroleh berkaitan dengan keluarga Neon. Dalam jalur yang dikenang alumni, Lisa dari Angkatan 1 memiliki adik asuh bernama Padlan dari Angkatan 2, yang kemudian memiliki adik asuh dari Angkatan 3, yaitu Adit. Karena adanya keterbatasan pendampingan antara asrama perempuan dan laki-laki, Padlan dan saya kemudian dititipkan ke keluarga Natrium. Dari cerita inilah muncul nama gabungan Natrium–Neon.

Pada perkembangan berikutnya, jalur keluarga tersebut mengalami perubahan lagi karena ada anggota yang keluar dari sekolah dan penambahan adik asuh dari angkatan selanjutnya. Komposisi keluarga pun menjadi tidak seimbang. Kisah ini memperlihatkan bahwa struktur keluarga asuh berkembang melalui penyesuaian terhadap kondisi yang dihadapi pada masanya. Namun, kronologi dan alasan setiap perubahan masih perlu dilengkapi melalui penelusuran lebih lanjut.

Menurut penuturan alumni, nama keluarga pada masa awal menggunakan istilah kimia. Dalam perkembangannya, muncul pula istilah matematika, hingga akhirnya terbentuk perpaduan nama dari kedua bidang tersebut. Daftar nama keluarga yang berhasil dihimpun dalam penelusuran awal meliputi:

  1. Titanium Ordo
  2. Sinus Zinc
  3. Kubus Gradien
  4. Limas Tangen
  5. Polygon Matrix
  6. Implikasi Tembereng
  7. Silikon Oksigen
  8. Natrium Neon
  9. Differential Limit
  10. Vektor Lithium
  11. Modus Aurum
  12. Iodium Pythagoras
  13. Parabola Chlorine

Asal-usul setiap nama, alasan penggabungan, serta perubahan yang terjadi dari satu angkatan ke angkatan berikutnya masih perlu dikonfirmasi.

Apakah setiap keluarga memiliki karakter khusus?

Seiring waktu, beberapa keluarga seolah-olah memiliki ciri tertentu. Misalnya, keluarga Silikon Oksigen pernah memiliki sejumlah anggota yang aktif bermain basket. Dari situ, keluarga tersebut kemudian terkesan sebagai keluarga basket. Namun, berdasarkan cerita yang saya peroleh, hal itu lebih tepat dipahami sebagai kemungkinan kebetulan komposisi anggota daripada karakter yang sengaja ditetapkan sejak awal.

Kesamaan beberapa anggota tidak otomatis menggambarkan seluruh anggota keluarga. Kesan bahwa suatu keluarga identik dengan sifat kalem, kuat, atau bidang keunggulan tertentu juga perlu dipahami secara proporsional. Keluarga asuh tumbuh melalui pengalaman dan interaksi antarsiswa. Karakter yang muncul dalam perjalanan tersebut bisa menjadi bagian dari kenangan, tetapi belum tentu merupakan filosofi resmi keluarga. Penelusuran ini mengingatkan saya bahwa sejarah Smadaf tidak hanya tersimpan dalam nama-nama keluarga, tetapi juga dalam pengalaman orang-orang yang pernah menjalaninya.

Perlu ditegaskan bahwa tulisan ini merupakan catatan awal berdasarkan penuturan alumni. Beberapa informasi masih memerlukan konfirmasi melalui arsip, dokumentasi, atau kesaksian dari angkatan lain. Karena itu, cerita yang disampaikan tidak seluruhnya dapat dianggap sebagai fakta sejarah yang telah terverifikasi.

Saya berharap tulisan ini menjadi awal untuk menghimpun lebih banyak cerita dan dokumentasi dari alumni lintas angkatan. Jika ada informasi tambahan atau koreksi, semuanya dapat menjadi bagian dari upaya bersama untuk melengkapi sejarah Smadaf.

Sebab, memahami sejarah bukan hanya tentang mengetahui bagaimana sebuah tradisi bermula, tetapi juga tentang menghargai pengalaman yang membentuknya dan memastikan cerita tersebut dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *