
Ada momen-momen tertentu dalam kehidupan sekolah yang meninggalkan kesan mendalam. Salah satunya adalah ketika karya-karya tugas akhir siswa kelas XII mulai terkumpul dan dinilai. Pada titik ini, sekolah tidak lagi sekadar membaca laporan atau menonton presentasi, tetapi menyaksikan bagaimana proses belajar bertahun-tahun menemukan bentuk akhirnya.
Pada tahun pelajaran ini, 402 siswa kelas XII SMAN 10 Samarinda mengikuti penilaian tugas akhir. Setiap karya membawa cerita, setiap jalur memuat proses, dan setiap siswa menutup masa SMA dengan cara yang berbeda, namun sama-sama bermakna.
Perubahan
Program tugas akhir tahun ini lahir dari proses mendengarkan. Sejak November 2025, sekolah menerima berbagai usulan dan refleksi dari banyak pihak. Dari sana, muncul kesadaran bahwa potensi siswa tidak selalu tumbuh melalui satu jalur yang sama. Keadilan dalam pendidikan justru hadir ketika sekolah memberi ruang bagi keberagaman cara belajar dan berkarya.
Kesadaran itu kemudian dirumuskan dalam Panduan Program Tugas Akhir Siswa SMAN 10 Samarinda yang ditetapkan pada 11 Desember 2025. Panduan ini menetapkan enam jalur tugas akhir yang dapat dipilih siswa sesuai minat, bakat, dan capaian yang telah mereka bangun selama bersekolah.

Banyak Cerita Pertumbuhan
Pelaksanaan tugas akhir tahun ini memperlihatkan keragaman yang menggembirakan. Ada siswa yang menekuni penelitian dan karya tulis ilmiah, menyusun rumusan masalah, mengolah data, dan menarik kesimpulan dengan ketekunan. Sebagian besar penelitian memang berada pada ranah sosial dan humaniora—membahas fenomena pendidikan, perilaku, dan dinamika masyarakat—yang menunjukkan kepekaan siswa terhadap lingkungan sekitarnya.
Jalur lain yang tersedia yaitu proyek inovasi, karya seni dan multimedia, portofolio karier, serta aksi sosial atau community project. Setiap jalur menghadirkan bentuk tanggung jawab yang berbeda, namun memiliki nilai yang setara: kemampuan merencanakan, menjalani proses, dan menuntaskan karya.

Tahun ini juga terdapat 44 siswa yang menempuh Jalur Prestasi Ajang Talenta, yakni siswa-siswa yang telah berkiprah dalam berbagai kompetisi akademik dan nonakademik. Prestasi mereka dikonversi menjadi poin dan menggantikan kewajiban menyusun karya tulis ilmiah. Meski demikian, refleksi diri tetap menjadi bagian penting agar prestasi tidak berhenti sebagai capaian, melainkan menjadi pembelajaran.
Belajar Bersama
Dalam pelaksanaan penilaian, saya berkesempatan terlibat langsung sebagai tim penilai tugas akhir. Saya menilai satu siswa di setiap kelas, dari 12 kelas, dan dari proses itulah saya merasakan secara langsung denyut pembelajaran yang dijalani para siswa.
Di antara karya-karya yang saya nilai, terdapat satu penelitian yang meninggalkan kesan sangat kuat. Penelitian tersebut berbasis STEM, sesuatu yang jumlahnya belum banyak dibandingkan penelitian sosial dan humaniora, namun justru itulah yang membuatnya menonjol dan menarik perhatian.
Judul pertama adalah “Uji Validitas dan Efektivitas Minuman Herbal Berbasis Biji Kurma sebagai Sumber Antioksidan Alami.” Judul kedua, yang tak kalah menarik, adalah “Perbandingan Daya Hantar Listrik Air Garam dan Cairan Elektrolit Komersial terhadap Tegangan Lampu LED.”
Kedua penelitian ini menunjukkan keberanian siswa untuk menggabungkan konsep sains, eksperimen, dan penerapan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Metode yang digunakan sederhana, tetapi dirancang dengan logika yang kuat dan rasa ingin tahu yang tulus.
Menguatkan Harapan
Dalam proses penilaian, saya tidak hanya membaca laporan dan melihat hasil eksperimen. Saya menggali lebih jauh: mengapa siswa tersebut tertarik pada topik itu, apa hal baru yang ia temukan selama penelitian, serta apa sarannya untuk pengembangan pembelajaran di sekolah. Pertanyaan-pertanyaan reflektif itu membuka ruang dialog yang sangat bermakna.
Dari percakapan tersebut, terlihat bahwa tugas akhir bukan sekadar kewajiban akademik, melainkan pengalaman belajar yang membentuk cara berpikir, cara bertanya, dan cara memandang ilmu pengetahuan. Di situlah saya merasakan kebanggaan yang sulit digambarkan dengan angka atau nilai.

Catatan
Sekolah juga mencatat bahwa pelaksanaan tugas akhir tahun ini masih memiliki keterbatasan, terutama belum tersedianya pembimbing khusus untuk setiap jalur atau kelompok. Pengalaman ini menjadi bahan evaluasi penting. Ke depan, sekolah berkomitmen menyiapkan pendampingan yang lebih terstruktur, termasuk mengembangkan penelitian berbasis riset kolaboratif, agar potensi siswa dapat tumbuh lebih optimal.
Apresiasi
Melalui seluruh proses ini—sejak perencanaan, pelaksanaan, hingga penilaian—sekolah belajar bersama para siswa. Tugas akhir tahun ini memperlihatkan bahwa ketika diberi kepercayaan dan ruang, siswa mampu menghadirkan karya yang melampaui ekspektasi.
Pengalaman menilai secara langsung, berdialog, dan merefleksikan proses bersama siswa membuat saya semakin yakin bahwa angkatan 27 adalah angkatan yang memiliki keberanian berpikir, kepekaan belajar, dan kesiapan melangkah ke jenjang berikutnya.
Artikel ini menjadi catatan reflektif bahwa pendidikan bukan hanya tentang hasil akhir, melainkan tentang proses panjang yang membentuk manusia pembelajar. Dan pada titik ini, sekolah memiliki alasan kuat untuk merasa bangga.