
Dalam rangka Hari Ulang Tahun ke-28, SMAN 10 Samarinda menyelenggarakan Student Activity Expo—sebuah kegiatan yang pada mulanya tampak sebagai ajang pamer ekstrakurikuler, namun sesungguhnya menyimpan makna yang jauh lebih dalam. Expo ini menjadi ruang belajar terbuka, tempat sekolah memperlihatkan wajah pendidikannya yang utuh: bukan hanya tentang capaian akademik, tetapi tentang proses menemukan diri.
Mengundang siswa SMP/MTs/sederajat untuk hadir dan terlibat bukan semata strategi pengenalan sekolah. Kehadiran mereka adalah pengingat bahwa pendidikan seharusnya ramah, membangkitkan rasa ingin tahu, dan memberi pengalaman yang bermakna sejak langkah pertama memasuki lingkungan belajar.

Ekstrakurikuler sebagai Ruang Tumbuh
Setiap stan dalam Student Activity Expo menghadirkan cerita tentang proses. Club Athravasa, dengan tiga redaksinya, menunjukkan bahwa kreativitas lahir dari kebiasaan mengamati, mengingat, dan menafsirkan. Permainan picture memory sederhana justru mengajarkan pentingnya fokus dan ketelitian—dua keterampilan dasar dalam berpikir kritis.
Ekstrakurikuler Karya Tulis Ilmiah (KTI) menghadirkan ilmu pengetahuan yang membumi. Eksperimen filtrasi air mengajarkan bahwa menulis ilmiah tidak terpisah dari kepedulian terhadap persoalan nyata. Di sini, sains menjadi bahasa untuk memahami dan memperbaiki kehidupan.

Pada BOSS (Borneo Of Student Service), peserta diajak memahami bahwa sekolah adalah ruang pembelajaran sosial. Program kerja yang menyentuh kemanusiaan, lingkungan, dan kepedulian bersama menanamkan nilai bahwa pengetahuan tanpa empati akan kehilangan maknanya.
Budaya, Sains, dan Keberanian Mengekspresikan Diri
Club Dahayu dan Ekstrakurikuler Tari Tradisional mengingatkan bahwa pendidikan juga bertugas merawat identitas. Perbedaan fokus antara pembinaan prestasi dan pembelajaran dasar menunjukkan bahwa setiap anak berhak tumbuh sesuai tahap dan potensinya.
Di Ekstrakurikuler Sains, rasa takjub menjadi pintu masuk pembelajaran. Dari ekstraksi DNA, api berwarna, hingga prinsip hidrolik, peserta belajar bahwa sains bukan sekadar rumus, melainkan keberanian mencoba yang dibingkai oleh tanggung jawab dan keselamatan.


Sementara itu, Ekstrakurikuler Membatik menghadirkan pelajaran tentang kesabaran dan ketekunan. Proses panjang dari sketsa hingga kain batik mengajarkan bahwa hasil yang bernilai selalu lahir dari proses yang dihargai.

Ekstrakurikuler Public Speaking menutup rangkaian pengalaman dengan pesan penting: setiap siswa memiliki suara. Keberanian berbicara, berpikir cepat, dan menyusun gagasan menjadi bekal penting untuk menghadapi tantangan masa depan.
Expo sebagai Cermin Pendidikan
Student Activity Expo bukan sekadar perayaan ulang tahun sekolah. Ia adalah cermin tentang bagaimana pendidikan dijalankan. Ketika siswa diberi ruang untuk mencoba, salah, belajar, dan tumbuh, sekolah tidak lagi sekadar tempat mengajar, melainkan ruang kehidupan.
Melalui kegiatan ini, SMAN 10 Samarinda menegaskan komitmennya untuk membangun ekosistem pendidikan yang memanusiakan peserta didik—memberi ruang bagi kreativitas, kepedulian, dan keberanian menjadi diri sendiri. Expo ini menjadi pengingat bahwa pendidikan terbaik tidak selalu lahir dari ruang kelas, tetapi dari pengalaman yang menghidupkan makna belajar itu sendiri.