Selama satu tahun terakhir, konfigurasi meja berbentuk U diterapkan sebagai bagian dari upaya menciptakan ruang belajar yang lebih interaktif, komunikatif, dan berpusat pada murid.

Samarinda — Perubahan dalam pendidikan tidak selalu harus dimulai dari teknologi baru, program besar, atau perubahan kurikulum. Terkadang, transformasi pembelajaran dapat dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana: bagaimana meja dan kursi siswa ditempatkan di dalam kelas. Selama satu tahun terakhir, SMAN 10 Samarinda menerapkan konfigurasi tempat duduk berbentuk U (U-shaped/horseshoe seating arrangement) di seluruh kelas. Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya sekolah membangun lingkungan belajar yang lebih interaktif, komunikatif, dan mendukung pembelajaran yang berpusat pada murid. Bagi SMAN 10 Samarinda, susunan meja berbentuk U bukan sekadar persoalan estetika ruang kelas. Penataan tersebut dirancang berdasarkan pertimbangan pedagogis bahwa ruang fisik kelas merupakan bagian dari lingkungan belajar (learning environment) yang dapat memengaruhi pola interaksi antara guru dan murid maupun antarmurid.
Pada konfigurasi kelas konvensional, seluruh meja umumnya menghadap ke depan. Model tersebut efektif untuk situasi tertentu, terutama ketika guru memberikan penjelasan langsung, presentasi, atau pembelajaran yang membutuhkan fokus individual. Namun, pola tersebut juga cenderung membentuk komunikasi yang linear, yaitu guru di depan, murid menghadap guru. Konfigurasi berbentuk U menawarkan pola interaksi yang berbeda. Murid tidak hanya berhadapan dengan guru, tetapi juga memiliki kesempatan lebih besar untuk melakukan kontak visual dengan teman-temannya. Guru pun dapat bergerak dan berinteraksi dengan lebih mudah di dalam ruang kelas.

Temuan penelitian mendukung pertimbangan tersebut. Setiadi dan Ramdani dalam penelitian mengenai pengaturan tempat duduk pada pembelajaran saintifik di SMK membandingkan tiga konfigurasi, yaitu traditional, horseshoe, dan modular arrangement. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konfigurasi horseshoe atau bentuk U memiliki kualitas visibility tertinggi, yaitu 71,37%, sementara terdapat perbedaan karakteristik ketiga konfigurasi dalam aspek motivasi, visibility, dan flexibility. Penelitian lain oleh Munir mengenai pengaruh konfigurasi tempat duduk terhadap perhatian belajar siswa juga menemukan bahwa U-shaped seating arrangement lebih baik dibandingkan row formation dalam konteks pembelajaran yang membutuhkan komunikasi. Penelitian tersebut mengaitkan konfigurasi U dengan kemudahan terciptanya eye contact antara guru dan siswa maupun antarsiswa. Dengan demikian, perubahan posisi meja menjadi U tidak dimaksudkan untuk menghilangkan peran guru sebagai pengarah pembelajaran. Sebaliknya, desain tersebut memberikan ruang agar guru dapat berpindah secara fleksibel antara berbagai pola pembelajaran: direct instruction, questioning, discussion, presentation, collaborative learning, hingga reflection.

Praktik di SMAN 10 Samarinda juga sejalan dengan penelitian Obi dkk. yang diterbitkan dalam Heliyon pada 2023. Penelitian terhadap 548 siswa sekolah menengah tersebut menemukan bahwa seating arrangement memiliki hubungan yang signifikan dengan academic grade, collaboration, dan student interest. Peneliti kemudian merekomendasikan modifikasi ruang kelas sains ke bentuk U agar guru dapat berinteraksi lebih bebas dengan setiap siswa.
Temuan tersebut memberikan perspektif bahwa desain ruang kelas bukan sekadar persoalan teknis pengaturan furnitur. Spatial arrangement dapat menjadi bagian dari instructional design karena turut membentuk siapa yang dapat melihat siapa, siapa yang dapat berinteraksi dengan siapa, serta bagaimana komunikasi berlangsung selama proses pembelajaran. Hal tersebut menjadi salah satu pertimbangan SMAN 10 Samarinda dalam mempertahankan konfigurasi U sebagai desain utama ruang kelas selama satu tahun terakhir.
Penerapan konfigurasi U juga tidak berarti bahwa satu bentuk tempat duduk harus digunakan untuk seluruh situasi pembelajaran. Kebutuhan pembelajaran tetap menjadi pertimbangan utama. Untuk kegiatan seperti ujian, asesmen individual, atau pembelajaran yang membutuhkan konsentrasi penuh terhadap materi di depan kelas, konfigurasi menghadap ke depan dapat menjadi pilihan yang lebih sesuai.
Penelitian mengenai perspektif siswa terhadap orderly rows seating arrangement juga menunjukkan bahwa susunan baris tetap memiliki fungsi dalam kegiatan seperti presentation, lecture, atau explanation. Namun, model tersebut memiliki keterbatasan ketika pembelajaran membutuhkan diskusi kelompok, pergerakan, dan interaksi yang lebih intensif. Karena itu, peneliti merekomendasikan agar pengaturan tempat duduk disesuaikan dengan learning goals, learning methods, dan classroom situation. Prinsip inilah yang menjadi dasar praktik di SMAN 10 Samarinda: U-shape menjadi desain utama ruang kelas, sementara strategi pembelajaran tetap dapat menyesuaikan kebutuhan aktivitas belajar.
Refleksi
Penerapan selama satu tahun memberikan kesempatan bagi sekolah untuk tidak hanya menerapkan perubahan secara administratif, tetapi juga melakukan refleksi terhadap bagaimana ruang kelas digunakan dalam praktik pembelajaran sehari-hari. Meja berbentuk U membuat guru dan murid berada dalam ruang interaksi yang lebih terbuka. Diskusi menjadi lebih natural karena siswa dapat melihat satu sama lain. Guru juga lebih mudah mengamati respons siswa, memberikan pertanyaan, mendampingi proses berpikir, dan berpindah dari satu bagian kelas ke bagian lainnya. Lebih jauh, praktik ini menempatkan murid bukan hanya sebagai penerima informasi, tetapi sebagai partisipan dalam proses pembelajaran. Dalam perspektif ini, perubahan sederhana pada tata ruang menjadi bagian dari upaya membangun student-centered learning environment.
Praktik baik SMAN 10 Samarinda menunjukkan bahwa transformasi sekolah tidak selalu harus dimulai dengan sesuatu yang kompleks. Sebuah meja yang dipindahkan dari posisi menghadap lurus ke depan menjadi bagian dari konfigurasi U mungkin terlihat sederhana. Namun, di baliknya terdapat sebuah gagasan yang lebih besar, yaitu lingkungan belajar perlu dirancang agar selaras dengan tujuan pembelajaran. Jika sekolah menginginkan murid yang mampu berkomunikasi, berdiskusi, berkolaborasi, menyampaikan gagasan, mendengarkan perspektif orang lain, dan berpikir kritis, maka ruang belajar juga perlu memberikan kesempatan bagi perilaku-perilaku tersebut untuk muncul.
Karena itu, setelah satu tahun penerapan, konfigurasi U di SMAN 10 Samarinda bukan lagi sekadar persoalan “bagaimana murid duduk”, tetapi menjadi bagian dari refleksi sekolah mengenai “bagaimana murid belajar. Praktik sederhana tersebut menjadi salah satu langkah SMAN 10 Samarinda dalam membangun budaya pembelajaran yang lebih aktif, interaktif, dan berpusat pada murid—dengan keyakinan bahwa learning space is part of learning design.