Sumber: Catatan Reflektif Orang Tua Siswa (ASE)
Di tengah berbagai dinamika yang tengah dihadapi, SMAN 10 Samarinda terus meneguhkan komitmennya pada satu hal yang tidak pernah berubah: mutu pendidikan dan pengembangan intelektual peserta didik. Komitmen inilah yang tertangkap secara jujur dalam sebuah catatan reflektif dari salah satu orang tua siswa, yang juga berprofesi sebagai akademisi.
Orang tua tersebut mengamati secara langsung proses pembelajaran anaknya, khususnya pada pelaksanaan Program Riset Kolaboratif yang menjadi agenda rutin sekolah. Pengamatan itu menghadirkan kekaguman mendalam terhadap kualitas karya tulis ilmiah yang dihasilkan siswa kelas XII.
Menurutnya, karya tulis yang disusun para siswa bukan sekadar tugas sekolah biasa. Struktur penulisan mengikuti kaidah metodologi penelitian ilmiah yang sistematis, materi kajian berbasis sains yang kuat, serta diakhiri dengan proses presentasi dan pengujian layaknya sidang akademik di perguruan tinggi. Diskusi yang terbangun antara siswa dan orang tua bahkan mencerminkan kemampuan berpikir kritis yang matang.
Lebih dari itu, riset yang dihasilkan tidak berhenti pada tataran teori. Beberapa karya di bidang Kimia dan Fisika telah menyentuh aspek aplikatif dan pemecahan masalah, menunjukkan bahwa siswa dilatih untuk melihat ilmu pengetahuan sebagai alat menjawab tantangan nyata. Fondasi berpikir sistematis, analitis, dan orisinal inilah yang menurut orang tua tersebut menjadi modal penting bagi lahirnya calon peneliti dan penulis ilmiah masa depan.
Apresiasi tinggi juga disampaikan kepada para guru pembimbing dan penguji yang secara konsisten mendampingi proses riset siswa. Di tangan para pendidik inilah budaya ilmiah tetap terjaga, bahkan diperkuat, sehingga siswa mampu mengembangkan potensi terbaiknya secara optimal.
Catatan reflektif ini menegaskan bahwa kualitas “PLUS” yang melekat pada SMAN 10 Samarinda bukanlah sekadar simbol, melainkan tercermin dalam mentalitas belajar, etos akademik, serta semangat riset yang tumbuh di lingkungan sekolah. Prestasi di berbagai bidang—baik akademik, seni, olahraga, maupun sains—menjadi bukti nyata dari karakter tersebut.
Sebagaimana disampaikan dalam catatan orang tua tersebut, tantangan boleh datang silih berganti. Namun selama api keingintahuan, budaya riset, dan kecintaan pada ilmu pengetahuan terus menyala, SMAN 10 Samarinda akan tetap menjadi ruang tumbuh bagi generasi pembelajar yang tangguh dan berdaya saing.
Berikut Tulisan Asli Bapak ASE
RISET KOLABORATIF SMAN 10 SAMARINDA:
( Kilau “Emas” di Tengah Badai, Riset Sekelas Kampus!)
Catatan sore: ASE
Belakangan ini, nama SMAN 10 Samarinda seringkali menghiasi pemberitaan, namun sayangnya bukan karena prestasi yang biasanya menjadi “makanan sehari-hari” sekolah ini. Kita semua tahu, sekolah ini sedang berada dalam fase yang tidak mudah. Mulai dari drama pemindahan lokasi sekolah dari Wahid Hasyim ke kampus lama di Samarinda Seberang, hingga konflik hukum antara Yayasan Melati dan Pemprov Kaltim yang berujung pada eksekusi oleh Satpol-PP.
Masih segar di ingatan kita foto-foto para siswa yang terpaksa belajar lesehan di depan gerbang yang digembok. Sebuah pemandangan yang menyayat hati bagi institusi yang menyandang label SMAN PLUS.
Namun, benarkah semangat mereka ikut “tergembok”? Ternyata jawabannya adalah TIDAK.
”Skripsi” di Bangku SMA:
Bukan Kaleng-Kaleng broo, Di tengah hiruk pikuk persoalan hukum yang belum tuntas, ada sinar kualitas yang tetap memancar kuat dari balik ruang-ruang kelas. Sebagai orang tua siswa saya sekaligus akademis dan dosen di universitas Mulawarman Samarinda sehari-hari membimbing mahasiswa S1 hingga S3, (dari membimbing skripsi sampai disertasi ) saya dibuat terperangah saat melihat tugas akhir kelas XII di sekolah ini.
Bukan sekadar makalah biasa, para siswa diwajibkan membuat Karya Tulis Ilmiah (KTI) dengan standar yang luar biasa. Saya berani katakan: Ini adalah riset sekelas skripsi S1.
Saat saya membaca isi riset anak saya yang duduk di kelas akhir, dan berdiskusi dengannya, saya tidak merasa sedang berbicara dengan anak SMA. Kami berdebat tentang:
- Struktur Penulisan: Mengikuti kaidah metodologi penelitian yang ketat.
- Bobot Materi: Berbasis pada ilmu pengetahuan (Saintek) yang mendalam.
- Presentasi: Mereka harus mempertahankan riset tersebut di depan guru penguji persis seperti sidang munaqasah atau ujian skripsi di universitas
Suatu saat saya meyakini siswa siswi SMAN 10 ini memiliki Potensi “Penulis Scopus” Masa Depan
Kekaguman saya memuncak saat melihat karya-karya yang bersifat aplikatif. Di bidang Kimia dan Fisika, riset mereka bukan sekadar teori di atas kertas, tapi sudah menyentuh level pemecahan masalah (problem solving).
Melihat kedalaman analisis dan orisinalitas ide mereka, saya melihat cikal bakal penulis jurnal internasional bereputasi atau Scopus. Ini bukan berlebihan, karena fondasi berpikir kritis dan sistematis sudah tertanam kuat bahkan sebelum mereka menginjakkan kaki di bangku kuliah” Siswa SMAN 10 Samarinda membuktikan bahwa meski raga mereka mungkin berpindah tempat dan situasi tak menentu, intelektualitas mereka tidak pernah tergradasi.”
Saya melihat ada Kilauan Emas di Balik Nama “PLUS”
Saya selaku orang tua siswa mengikuti secara cermat proses studi anak saya di sekolah ini Apresiasi yg tulus dari saya, setinggi-tingginya perlu kita berikan kepada para guru pembimbing dan penguji Di tangan mereka, kilauan emas ilmu pengetahuan tetap terjaga. Mereka adalah garda terdepan yang memastikan generasi ini tetap mampu melahirkan periset kelas nasional, bahkan dunia.
Fakta ini mempertegas bahwa label “PLUS” pada SMAN 10 Samarinda bukanlah sekadar aksesoris nama atau lambang semata. Prestasi di bidang olahraga, seni, budaya, hingga puncaknya di bidang Saintek adalah bukti nyata bahwa kualitas “plus” itu ada di dalam mentalitas siswa dan pendidiknya.
Kesimpulan saya sederhana: Badai boleh saja datang menerjang institusi, namun selama api riset dan haus akan ilmu pengetahuan tetap menyala, SMAN 10 Samarinda akan selalu menjadi pabrik intelektual yang tak tergoyahkan. (ASE)