
Tangerang Selatan — Manajemen SMA Negeri 10 Samarinda (SMARIDASA) mengikuti Pelatihan 2 Regional Jakarta 2 Pengembangan Kerja Sama/Kemitraan Strategis Program SMA Unggul Garuda Transformasi (SUGT) 2026 yang diselenggarakan oleh Lembaga Kepemimpinan dan Pendidikan Eksekutif (LKPE), IPB University, pada 23–26 Oktober 2026 di Hotel Grand Zuri BSD City, Tangerang Selatan, Banten.
SMAN 10 Samarinda diikuti oleh Kepala SMA Negeri 10 Samarinda, Ibu Ni Made Adnyani, S.Ag., M.Pd., bersama Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Ibu Huntari Prestia Dewi, S.Pd. Keikutsertaan keduanya merupakan bagian dari upaya sekolah untuk memperkuat kapasitas manajemen dalam membangun dan mengembangkan kemitraan strategis yang mendukung transformasi pendidikan serta pengembangan talenta murid. Pelatihan ini merupakan kelanjutan dari Pelatihan 1 yang telah dilaksanakan pada 18–20 September 2026. Program ini dirancang untuk membekali manajemen sekolah dengan pengetahuan dan keterampilan dalam merancang proposal kemitraan, memahami aspek hukum dan administrasi kerja sama, serta mengembangkan strategi negosiasi dengan calon mitra pendidikan.
Salah satu pengalaman menarik dalam rangkaian program ini adalah proses penyusunan proposal kemitraan strategis sekolah sebagai persyaratan untuk mengikuti Pelatihan 2. Proses tersebut menjadi kesempatan bagi SMAN 10 Samarinda untuk merefleksikan kebutuhan pengembangan sekolah, mengidentifikasi potensi kolaborasi, serta merumuskan arah kemitraan yang selaras dengan visi dan prioritas transformasi pendidikan. Penyusunan proposal kemitraan bukan sekadar menyusun dokumen formal, melainkan proses menerjemahkan visi sekolah menjadi rencana kolaborasi yang konkret. Sekolah perlu mengidentifikasi kebutuhan, menentukan bidang kerja sama yang relevan, memetakan calon mitra potensial, serta merumuskan manfaat yang diharapkan bagi murid dan pengembangan institusi.

Proses ini juga menghadirkan tantangan tersendiri, terutama dalam menyelaraskan kebutuhan sekolah dengan potensi kontribusi mitra, merumuskan program yang saling menguntungkan, dan memastikan bahwa setiap bentuk kerja sama memiliki tujuan serta hasil yang terukur. Bagi SMAN 10 Samarinda, pengalaman tersebut menjadi momentum untuk melihat kemitraan dari perspektif yang lebih strategis. Kemitraan tidak cukup dibangun atas dasar hubungan kelembagaan, tetapi perlu dirancang berdasarkan kebutuhan nyata, kesamaan tujuan, kejelasan peran, dan keberlanjutan program.
Selama pelatihan, peserta mengikuti sejumlah materi yang dirancang untuk memperdalam kompetensi dalam pengembangan kemitraan pendidikan. Materi tersebut meliputi Partnership Proposal Refinement Clinic, Legal & Administrative Essentials of MoU, Self Drafting Clinic, Negotiation Skills for Educational Partnerships, serta Mock Negotiation & Presentation Rehearsal. Melalui sesi-sesi tersebut, peserta memperoleh ruang untuk menyempurnakan rancangan proposal kemitraan, memahami aspek legal dan administratif dalam penyusunan dokumen kerja sama, serta melatih keterampilan komunikasi dan negosiasi melalui simulasi. Pengalaman ini penting bagi manajemen sekolah karena keberhasilan kemitraan tidak hanya ditentukan oleh banyaknya jejaring yang dimiliki, tetapi juga oleh kemampuan mengelola kolaborasi secara profesional. Setiap kemitraan perlu memiliki ruang lingkup yang jelas, pembagian tanggung jawab yang disepakati, mekanisme pelaksanaan yang realistis, serta indikator keberhasilan yang dapat dievaluasi.
Bagi SMAN 10 Samarinda, pengembangan kemitraan strategis memiliki keterkaitan erat dengan agenda transformasi sekolah, khususnya dalam memperkuat keunggulan akademik, pembelajaran transformatif, kompetensi global, dan pengembangan potensi murid. Melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi, lembaga profesional, dan mitra strategis lainnya, sekolah berpeluang memperluas akses murid terhadap pengalaman belajar yang lebih beragam. Hal ini mencakup pengembangan sains, teknologi, rekayasa, dan matematika (STEM), riset kolaboratif, penguatan kompetensi bahasa Inggris, serta persiapan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi nasional maupun internasional.
Namun, esensi kemitraan yang dikembangkan SMAN 10 Samarinda tidak berhenti pada penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU). Kemitraan diharapkan menghasilkan program nyata yang memberikan nilai tambah bagi pembelajaran, memperkuat kapasitas pendidik, memperluas kesempatan murid, dan mendukung peningkatan mutu pendidikan secara berkelanjutan. Rangkaian pelatihan berlanjut hingga Senin, 26 Oktober 2026, melalui sesi Reflection Session dan School Partnership Planning. Kedua sesi tersebut memberikan ruang bagi peserta untuk merefleksikan pembelajaran yang diperoleh dan menghubungkannya dengan perencanaan kemitraan di sekolah masing-masing.
Bagi SMAN 10 Samarinda, pelatihan ini diharapkan menjadi pijakan untuk menyempurnakan proposal kemitraan strategis menjadi rencana aksi yang lebih terarah, realistis, dan berorientasi pada hasil. Dengan perencanaan yang matang, setiap kolaborasi diharapkan mampu mendukung pencapaian prioritas sekolah sekaligus membuka lebih banyak peluang bagi murid untuk mengembangkan kompetensi dan meraih masa depan yang lebih luas. Partisipasi dalam Program SMA Unggul Garuda Transformasi 2026 menegaskan komitmen SMAN 10 Samarinda untuk terus belajar, berinovasi, dan membangun kolaborasi lintas institusi. Sekolah memandang kemitraan strategis sebagai bagian penting dalam membangun ekosistem pendidikan yang adaptif terhadap perubahan, berorientasi global, dan tetap berpijak pada kebutuhan serta potensi murid.
Sejalan dengan semangat “Everyone is a leader, a learner, and a contributor to national and global growth”, SMAN 10 Samarinda terus berupaya menghadirkan pendidikan yang tidak hanya mendorong prestasi akademik, tetapi juga menumbuhkan kepemimpinan, kemandirian, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.
SMAN 10 Samarinda — Empowering Yourself, LIGHT the Way.